Rabu, 27-10-2021
  • Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar rasa toleransinya.

Kiat Sukses Pembelajar Produktif pada Era Pandemi COVID-19

Diterbitkan : - Kategori : Uncategorized

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bangsa Indonesia adalah produktivitas sumber daya manusia (SDM). Bangsa yang unggul dilihat dari tingginya tingkat produktivitas SDMnya. Merujuk pada data yang diterbitkan oleh Asian Productivity Organization (APO) dalam APO Productivity Data Book 2020 seperti yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini, diketahui bahwa posisi produktivitas per pekerja Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Bahkan lebih buruk lagi bahwa produktivitas per pekerja Indonesia berada di bawah rata-rata tingkat produktivitas tenaga kerja 6 negara ASEAN terbesar.

Sumber: Figure 28. Per Worker Labor Productivity level. APO Productivity Database 2020.

Produktivitas tenaga pekerja Indonesia hanya seperlima dari Singapura, dimana produktivitas Singapura berada pada peringkat pertama di antara negara-negara ASEAN. Produktivitas per pekerja Indonesia hanya berkisar USD23.900. Hal tersebut hanya seperlima dari Singapura yang berada di peringkat pertama dengan produktivitas per pekerja sebesar USD149.100. Selain itu tenaga kerja Indonesia masih terpaut jauh dari Malaysia dengan produktivitas per pekerja sebesar USD55.400 atau lebih dari dua kali lipat Indonesia.

 

Tidak ada jalan lain solusi bagi permasalahan Indonesia hanya satu yakni meningkatkan keunggulan kapasitas SDM sehingga mampu berkompetisi secara global segera ditingkatkan dengan segala cara. Pengembangan kapasitas SDM unggul harus dimulai dari lingkungan pembelajar pendidikan vokasi yang mencetak tenaga kerja yang langsung terjun ke dunia kerja. Pendidikan vokasi merupakan subsistem pendidikan yang berbasiskan keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan yang mengarah langsung pada dunia usaha, dinia industri dan dunia.

 

Para pembelajar sebagai makhluk biologis dan fisik tidak terlepas dari konsep “Siapa yang kuat maka dialah yang menang”. Konsep ini menuntut adanya sebuah kemajuan dan inovasi dalam produktivitas. Pembelajar semaksimal mungkin memaksimalkan potensi manusia untuk mencapai target-target dan mendapatkan hasil yang diinginkan dari sebuah tindakan.

 

Sayangnya pembelajar saat ini berada pada zaman yang penuh gangguan. Pembunuh utama produktivitas berada pada zaman ini yaitu diantaranya gangguan dari Media Sosial. YouTube masih menjadi media sosial terpopuler di Tanah Air. Angka pengguna YouTube mencapai 94% dengan rentang usia berada di kisaran 16 hingga 64 tahun. Angka tersebut dikutip Beritasatu.com berdasarkan survei yang dilakukan GWI pada triwulan ketiga 2020.

 

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Microsoft, diketahui bahwa penggunaan media sosial seperti Youtube, Facebook, Twitter, Instagram dan Tiktok menganggu konsentrasi dan dibutuhkan rata-rata 23 menit bagi pengguna untuk kembali fokus kepada tugas. Gangguan ini dapat berlangsung dari beberapa menit hingga kurang dari satu jam pada awal-awal melakukan aktivitas.

Pada masa pandemi COVID-19 ini, media sosial sebagai penganggu produktivitas berkembang menjadi sangat besar dan paling dominan seiring dengan penggunaan media online dalam pembelajaran jarak jauh. Akibatnya muncul rasa malas yang sangat susah untuk dilawan dan juga sulitnya berkonsentrasi ketika belajar, terlebih ketika para pengajar lebih sering memberikan banyak tugas yang malah akan membuat para pembelajar semakin bosan dan stress ketika belajar. Kondisi ini telah berlangsung lebih dari satu tahun di Indonesia. Akibatnya kondisi ini banyak mendorong para pembelajar sibuk sendiri di “dunia layar” (SCREEN world) pada smartphonenya dengan kapasitas jelajahannya jauh dan lebih tak terbatas dibanding “dunia ruang” (SPACE world).

 

Produktivitas dapat dimaknai sebagai output dari suatu input. Hal tersebut menandakan bahwa seberapa banyak hasil yang didapatkan dari apa yang telah investasikan. Ilustrasi mudahnya, jika seorang pembelajar menginvestasikan waktu tiga jam untuk menyelesaikan satu tugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu enam jam, maka secara teknis pembelajar tersebut menjadi lebih produktif. Akan tetapi definisi tersebut lebih cocok mengilustrasikan untuk sebuah pabrik dari pada bagi seorang individu pembelajar, dengan  meminjam definisi yang dikembangkan Mohammed Faris (2016) dimana produktivitas adalah sebuah proses tentang membuat pilihan yang cerdas (secara terus-menerus) dengan fokus, energi, dan waktu Anda untuk memaksimalkan potensi Anda serta meraih hasil yang bermanfaat.

PRODUKTIVITAS = FOKUS X ENERGI X WAKTU

Maka seorang pembelajar yang produktif harus memiliki tiga unsur sekaligus dalam mengelola dirinya untuk tujuan yang bermanfaat yakni fokus, energi, dan waktu. Jika seorang pembelajar hanya memiliki fokus dan waktu, tetapi kekurangan energi, maka pembelajar tersebut akan merasa sangat lelah dan lesu untuk menangani tugas-tuganya. Selanjutnya, Jika seorang pembelajar hanya memiliki banyak energi dan waktu tetapi kurang fokus, konsentrasi pembelajar akan terus-menerus terganggu, melompat dari satu tugas ke tugas lain, sehingga tidak bisa menyelesaikan tugas yang sedang dihadapi. Kemudian, Jika seorang pembelajar hanya memiliki energi dan fokus, tetapi tidak mempunyai waktu maka pembelajar tersebut juga tidak bisa produktif. Oleh karena itu, seorang pembelajar produktif harus memiliki hasil dari ketiga unsur tersebut.

 

Definisi di atas sangat membantu dengan mudah bagi seorang pembelajar untuk melakukan evaluasi diri serta dapat memahami mengapa dirinya menjadi tidak produktif pada saat-saat tertentu. Jika pada saat ini seorang pembelajar menanyakan pada dirinya sendiri misalnya ‘Saya ini lesu, tidak fokus, atau terburu-buru?” maka kiat sukses untuk produktif adalah dengan menjawab pada unsur mana saja yang harus dimaksimalkan -fokus, energi, atau waktu- untuk meningkatkan produktivitas. Oleh karena itu seorang pembelajar yang produktif harus memiliki kemampuan untuk meningkatkan ketiga faktor mencapai tujuan yang bermanfaat dengan mengatur fokus, energi, dan waktu.

 

Akhirnya, sangatlah tidak mudah untuk menjadi seorang pembelajar yang produktif di tengah masa pandemi COVID-19, butuh waktu dan kerja keras untuk menjadi produktif. Seorang pembelajar harus selalu membuat pilihan cerdas setiap harinya, hingga kebiasaan-kebiasaan yang bermanfaat tertanam dan sikap produktif menjadi gaya hidup. (AWK)

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan